Terkenal dengan lanskap magisnya yang memiliki kawah sering berasap, Gunung Bromo yang menjadi bagian dari Taman Nasional bromo Tengger Semeru merupakan destinasi liburan populer di kalangan wisatawan. Open trip Bromo pun selalu laris manis setiap tahunnya, terutama saat memasuki musim liburan.
Daya tarik utama di sini tidak lain yaitu kawahnya yang ikonik. Bibir kawah tersebut adalah puncak Bromo yang menjadi tujuan akhir pendakian dari area parkir. Dari bibir kawah, kamu bisa melihat pegunungan di sekitar, lautan pasir yang luas, hingga lautan kabut. Supaya pengalaman melihat Kawah Bromo lebih berkesan, cek fakta mengenai kawah ini dan tips menyaksikannya berikut.
Fakta dan Tips Kawah Gunung Bromo
baca juga: Open Trip Bromo: Tips Outfit dan Fotografi Saat Berburu Sunrise
1. Kawah yang Sangat Aktif
Bagi kamu yang belum pernah jalan-jalan ke Gunung Bromo, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa Bromo merupakan gunung berapi aktif. Jadi kawahnya terus-menerus mengeluarkan asap belerang dan uap panas. Meski begitu, semua ini tidak menghalangi wisatawan untuk datang ke Gunung Bromo.
Dengan manajemen risiko yang mengizinkan akses aman ke area-area tertentu, kamu bahkan bisa mendaki hingga bibir kawah. Apalagi letusan Gunung Bromo sejauh ini tidak terlalu eksplosif dan cenderung kecil meskipun erupsinya bisa dibilang cukup teratur.
Akan tetapi, pastikan kamu tetap berhati-hati jika ingin melihat kawahnya secara langsung. Patuhi protokol keamanan dengan memakai masker dan menjaga jarak dari kawah. Selain itu, pengelola akan menginformasikan status waspada atau berbahaya apabila terjadi sesuatu, jadi pastikan kamu menghindari area kawah di saat-saat seperti ini.
2. Diameter Kawah
Kalau kamu ikut open trip Bromo, kemungkinan besar kamu akan diajak mendaki lewat jalur pendakian utama yang mengarah ke puncak Gunung Bromo sisi barat daya. Kawah Gunung Bromo sendiri memiliki diameter sekitar 800 meter (utara-selatan) dan 600 meter (timur-barat), yang mana sisi barat daya merupakan lokasi ideal untuk menyaksikan keindahan kawah secara langsung.
Sisi ini menawarkan sudut pandang langsung ke dalam kawah yang mempunyai kedalaman kurang lebih 200 meter tersebut. Jadi dari atas kamu bisa melihat dengan jelas struktur kawah secara keseluruhan, bahkan memungkinkanmu melihat aktivitas vulkanik seperti asap belerang yang mengepul.
Karena itu, tips menyaksikan kawah Bromo secara langsung seperti ini yaitu jangan lupa pakai masker. Kamu bisa pakai masker standar seperti N95 yang cukup efektif untuk menyaring debu vulkanik. Jika kamu sensitif terhadap bau belerang, lebih direkomendasikan lagi menggunakan masker respirator gas yang dapat menyerap gas beracun dan partikel halus.
3. Ketinggian Bibir Kawah
Kalau kamu sudah memutuskan ikut open trip Bromo dan ingin mendaki hingga bibir kawah, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Di antaranya yaitu stamina untuk mendaki, masker seperti telah dijelaskan sebelumnya, sepatu trekking kokoh, dan pakaian hangat berlapis untuk menghalau hawa dingin.
Itu karena bibir kawah Gunung Bromo memiliki ketinggian sekitar 2.329 meter di atas permukaan laut (mdpl). Untuk mencapainya, perjalanan dari pintu masuk bisa menggunakan jeep dengan ikut open trip. Kemudian dari tempat parkir jeep di lautan pasir, bisa dilanjutkan dengan naik kuda atau berjalan kaki hingga sampai ke kaki tangga.
Meskipun akses Gunung Bromo termasuk mudah bila dibandingkan banyak gunung lainnya, namun ada sekitar 250 anak tangga curam yang harus kamu daki. Pendakian membutuhkan waktu selama kurang lebih 30-45 menit untuk sampai di atas, itulah mengapa stamina sangat penting.
Bagi kamu yang belum pernah ke Bromo, informasi di atas sangat penting untuk diketahui, terutama jika kamu ingin naik hingga bibir kawah dan menyaksikan kawahnya secara langsung. Dan supaya perjalanan lebih mudah serta lancar, kamu bisa ikut open trip Bromo di Alam Indonesia Tour. Dengan jeep, kamu bisa eksplor Bromo lebih nyaman sehingga tidak terlalu melelahkan.
